Voice of Human Rights News Centre - Menyuarakan Hak Asasi Manusia, Hukum & Demokrasi
 H O M E Voice of Human Rights News Centre
We move to www.vhrmedia.com.....(KAMI PINDAH KE WWW.VHRMEDIA.COM)
  Tuesday, 07 September 2010
Ind   Indonesia
VHRmedia Internet Streaming Radio
DESK SSR

Monday, 11 June 2007 13:47:49
"Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan"

Thursday, 03 May 2007 17:20:29
Kebebasan

Friday, 20 April 2007 13:07:47
Bumi Makin Panas

Friday, 13 April 2007 12:23:16
"Pembinaan"

Monday, 26 March 2007 17:02:25
The Art of Resistance

Thursday, 01 March 2007 13:58:08
"Taat Cuma Kalo Ada yang Liat"

Friday, 09 February 2007 15:01:10
Face Off

Monday, 14 August 2006 08:22:08
Hukuman Mati: Pengkhianatan Konstitusi

Friday, 04 August 2006 13:53:47
Menjadi Pemula


NEWS FEATURE INTERVIEW RADIO ABOUT US


.:: EDITORIAL ::.
Author : FX Rudy Gunawan
Mon, 11 Jun 2007 13:47:49 +0700



"Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan"


Kepedulian terhadap persoalan-persoalan hak asasi manusia bisa menemukan bentuknya dalam berbagai kegiatan. Kedutaan Besar Swiss, misalnya, pernah menyelenggarakan lomba cerpen remaja bertema hak asasi manusia pada tahun 2005 untuk peringatan kematian Munir. Sejumlah novelis seperti Miranda, Ayu Utami, Ninit Yunita, Dewi Lestari,  dan Fira Basuki, pada tahun yang sama juga mengekspresikan kepedulian mereka terhadap para tunanetra dengan memberikan soft copy karya-karya untuk di-Braille-kan. Lalu ada juga Voice of Human Rights News Centre yang konsisten mencoba memberikan kontribusi dalam bidang penegakan dan pendidikan hak asasi manusia melalui media website, radio streaming, dan jaringan radio komunitas di pelosok-pelosok desa agar masyarakat sadar dan peduli pada persoalan-persoalan kemanusiaan. Berbagai bentuk kampanye kemanusiaan melalui media seni budaya juga kerap digelar oleh Perkumpulan Seni Indonesia (PSI).
 
Semua bentuk kepedulian, sekecil apa pun, selain berharga juga memberikan harapan akan adanya kondisi yang lebih baik di Indonesia di masa-masa datang. Harapan ini harus terus dihidupkan dan dikobarkan oleh setiap orang yang masih memiliki hati nurani. Dan, pada 12-13 Juni 2007, sebuah acara bersama kembali digelar oleh orang-orang yang pernah terlibat kegiatan untuk kemanusiaan seperti di atas. Acara bertajuk “Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan” ini merupakan acara bersama Kedutaan Swiss, Yayasan Mitra Netra, Voice of Human Rights News Center, Perkumpulan Seni Indonesia, dan Goethe Institut. Acara ini merupakan terobosan dan pemaknaan baru media kesenian dalam hal kepedulian pada kelompok masyarakat yang dianggap “cacat” dan kerap tersingkirkan di hampir semua tatanan kehidupan.
 
Sejumlah acara menarik selama dua hari digelar di Goethe Institut. Ada peluncuran dan pembacaan story telling cerpen pemenang lomba cerpen HAM, ada penampilan band difabel Diferensia, ada pementasan grup teater tunanetra Meldict, ada lokakarya penulisan Braille, peluncuran ulang situs Voice of Human Rights News Center, dan yang paling “gila” adalah acara nonton film bareng tunanetra!
 
Banyak orang akan mengira acara ini mengada-ada, tidak masuk akal, atau bahkan gila! Tunanetra kok nonton film? Apa yang mau ditonton kalau mata mereka tidak bisa melihat? Pertama-tama acara ini memang bertujuan memperjuangkan persamaan hak bagi kaum tunanetra sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dalam menikmati seni. Bukankah tiap orang juga mempunyai hak sama untuk bisa menikmati dan mengapresiasi berbagai bentuk kesenian?
 
Mereka yang tunanetra pasti memiliki kerinduan menonton film yang sempat mereka tonton sebelum kebutaan menyergap mata. Dan bagi yang mengalami kebutaan sejak lahir pasti juga membutuhkan seni dan hiburan untuk mengasah dan mempertajam kehalusan budi pekerti. Tapi bagaimana mereka bisa “menonton” film? Mendengarkan musik jelas bisa dinikmati tunanetra.
 
Ide ini mungkin “gila”, tapi bukan berarti tidak mungkin. Konsep sederhana yang akan dilakukan adalah mengisi adegan-adegan tanpa dialog dengan narasi yang ditulis oleh script writer dan membiarkan adegan-adegan lain muncul apa adanya. Unsur-unsur lain dalam sebuah film, terutama musik dan sound atmosphere lainnya akan menjadi modal utama bagi para tunanetra untuk “menonton” film. Dua film yang terpilih untuk ditonton adalah Ketika karya Dedy Mizwar dan Rindu Kami Padamu karya Garin Nugroho.  
 
Irwan Dwi Kustanto, Wakil Direktur Yayasan Mitra Netra, mengatakan bisa menikmati film 80 persen lebih banyak setelah film dimodifikasi dibandingkan film aslinya sebelum dimodifikasi. Irwan yang menjadi tunanetra sejak usia sekitar sembilan tahun menganggap terobosan ini sungguh bermanfaat bagi orang-orang tunanetra. Jadi, seperti kata pepatah, sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini selama kita mau berusaha secara sungguh-sungguh. Semuanya kemudian terpulang pada diri kita masing-masing. Kalau kita memang peduli dan mau berbuat sesuatu untuk kemanusiaan, maka hanya dengan menyimak cerita-cerita kehidupan di sekeliling kita saja pun, kita sudah melakukan satu langkah untuk memihak kemanusiaan. (*)

[Send to Friends]   [Printer Friendly Page]
Search
Banjir 2007
Analysis
Human Rights Database
Security Sector Reform
The Letter
Links
Polling
Copyright © 2005 - 2010 VHRmedia.net - Voice of Human Rights News Centre
Jl. Tebet Barat Dalam II / 15 - Jakarta Selatan 12810 - Indonesia
Phone : +62 21 831 8274 - Faximile : +62 21 831 8276
E-mail : vhr@vhrmedia.net