Voice of Human Rights News Centre - Menyuarakan Hak Asasi Manusia, Hukum & Demokrasi
 H O M E Voice of Human Rights News Centre
We move to www.vhrmedia.com.....(KAMI PINDAH KE WWW.VHRMEDIA.COM)
  Friday, 10 September 2010
Ind   Indonesia
VHRmedia Internet Streaming Radio
ARTICLES

Friday, 08 June 2007 13:41:28

Resensi Buku
Secercah Kabar dari Neraka

Thursday, 07 June 2007 13:49:06

Kasus Pasuruan
Dua Wajah yang Tercoreng

Tuesday, 05 June 2007 15:41:11

Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Dari Padang Pasir hingga Padang Es

Thursday, 31 May 2007 12:27:32

Hari Tanpa Tembakau Sedunia
Mimpi Lingkungan Bebas Asap

Tuesday, 29 May 2007 15:17:09

Setahun Lumpur Lapindo
Yang Salah Masih Melenggang

Friday, 25 May 2007 15:47:59
Membandingkan Sistem Pendidikan Indonesia dan Kuba

Friday, 11 May 2007 17:11:56

Hari Perawat Internasional
Mereka yang Bekerja dengan Hati

Tuesday, 08 May 2007 19:09:23

Hari Palang Merah Internasional
Kebersamaan untuk Kemanusiaan

Friday, 04 May 2007 12:11:06

Resensi Buku
Holocaust, antara 'Kebenaran' dan Kemanusiaan

Thursday, 03 May 2007 19:17:32

Hari Kebebasan Pers Internasional
Pewarta Menapak Jalan Kelam


NEWS FEATURE INTERVIEW RADIO ABOUT US


.:: ARTICLE ::.
Author : Rosmi Julitasari S.
Fri, 08 Jun 2007 13:41:28 +0700



Resensi Buku
Secercah Kabar dari Neraka


“Tak ada gunanya kau mencoba mengajariku. Aku telah memimpin pasukan Jerman selama lima tahun, dan selama itu aku tahu segala hal tentang perang, jauh lebih banyak dibandingkan jenderal mana pun.” (Hitler pada Guderian, Desember 1944)


21 April 1945. Sehari setelah ulang tahunnya, Adolf Hitler mengakhiri perang, dan menghadapi kenyataan: kalah perang. Selama lima setengah tahun tak ada yang dilakukannya selain memimpin perang. Saat itu Hitler memegang posisi sebagai Fuhrer of the Third Reich, Panglima Besar Angkatan Bersenjata Jerman. Perang, seperti dikemukakan Hitler 12 tahun sebelumnya, adalah bisnis harian, yang pasti akan dilakukan dalam mengurus sebuah negara.

Pada musim panas 19941 Hitler menyerang Rusia dan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, dua negara adidaya yang tidak ingin kekuatannya diusik. Penyerbuan itu dianggap banyak kalangan sebagai perang dunia yang sebenarnya. Menyerang Rusia dianggap keputusan terbodoh yang tidak termaafkan, dan menyatakan perang terhadap Amerika sama dengan bunuh diri.

Mengapa Hitler menyerbu Rusia? Padahal, dia dan Stalin menandatangani pakta yang menyepakati pembentukan pasukan Axis bersama Italia dan Jepang untuk melawan pasukan Amerika Serikat dan Inggris? Franz Scheneider dan Charles Gullans memaparkan, jawabannya terletak pada permusuhan alami antara kaum fasis di Jerman dan komunis di Rusia. Selain berambisi membasmi bangsa Yahudi, Hitler juga ingin membasmi ras-ras yang ia anggap rendah yang banyak berdiam di belahan timur Eropa. Hal ini yang menyebabkan ia memerintahkan pasukannya untuk tidak peduli atas jatuhnya korban warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Penyerbuan pasukan Hitler ke Rusia dikenal dengan nama Operasi Barbarossa. Operasi ini bertujuan menempatkan pasukan Jerman di seluruh penjuru Rusia. Hitler merencanakan membuat parade militer di Lapangan Merah sebelum Natal 1941.

Perang memang selalu menyebabkan penderitaan. Berbeda dari buku-buku yang lain, seperti Hitler as Military Commander karya John Strawson (1971) atau Hitler’s Strategy yang ditulis FH Hinsley (1951), Franz Scheneider dan Charles Gullans berusaha mengungkapkan penderitaan para prajurit perang dalam buku Neraka di Stalingrad.

Memang ada sedikit keriaan dalam kehidupan prajurit di medan perang. Hal-hal unik sekecil apa pun bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka. Namun yang melulu terasa adalah kesuraman dan penderitaan. Kelaparan, kedinginan, rasa rindu pada rumah dan sanak keluarga selalu mendera hari-hari melelahkan setiap prajurit. Para prajurit akhirnya merasa dikhianati dan ditipu rezim yang mengirim mereka ke medan perang.

Surat-surat yang dimuat dalam buku ini adalah sedikit saja dari yang terbawa dalam tujuh karung yang berhasil diterbangkan keluar Stalingrad. Namun karung-karung tersebut ditahan oleh Komando Tinggi Jerman. Nama yang dituju beserta alamatnya dan nama pengirim dihilangkan, untuk kemudian dijadikan bahan analisis dalam kajian tentang moral serdadu. Hasilnya sangat merusak bagi rezim Nazi, sehingga surat-surat tersebut disembunyikan dan dikunci dalam arsip angkatan bersenjata (hal. 52).

Membaca surat-surat yang dimuat dalam buku ini tergambar betapa menderita para serdadu. Tak peduli betapa benci masyarakat dunia pada pasukan Nazi, empati yang tinggi bisa diberikan pada mereka. Sayang sekali penerjemahan yang lemah membuat otak pembaca lelah mencerna kata dan kalimat buku ini. Sulit memperoleh bayangan penderitaan para serdadu seperti bisa kita nikmati saat membaca D-Day karya Stephen Ambrose (1994) yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. (E4)

Judul: Neraka di Stalingrad
Penulis: Franz Schneider & Charles Gullans
Penyunting: Floriberta Aning S
154 Halaman
ISBN 979-168-037-X
Penerbit: Narasi, Yogyakarta
Cetakan Pertama, 2007

Kerja sama dengan Buku Kita

[Send to Friends]   [Printer Friendly Page]


Related Links :

Friday, 04 May 2007 12:11:06
Resensi Buku

Friday, 20 April 2007 15:12:31
Resensi Buku

Wednesday, 28 March 2007 13:39:27
Resensi Buku

Wednesday, 14 March 2007 12:03:13
Resensi Buku

Search
Banjir 2007
Analysis
Human Rights Database
Security Sector Reform
The Letter
Links
Polling
Copyright © 2005 - 2010 VHRmedia.net - Voice of Human Rights News Centre
Jl. Tebet Barat Dalam II / 15 - Jakarta Selatan 12810 - Indonesia
Phone : +62 21 831 8274 - Faximile : +62 21 831 8276
E-mail : vhr@vhrmedia.net