Voice of Human Rights News Centre - Menyuarakan Hak Asasi Manusia, Hukum & Demokrasi
 H O M E Voice of Human Rights News Centre
We move to www.vhrmedia.com.....(KAMI PINDAH KE WWW.VHRMEDIA.COM)
  Friday, 10 September 2010
Ind   Indonesia
VHRmedia Internet Streaming Radio
ARTICLES

Friday, 08 June 2007 13:41:28

Resensi Buku
Secercah Kabar dari Neraka

Thursday, 07 June 2007 13:49:06

Kasus Pasuruan
Dua Wajah yang Tercoreng

Tuesday, 05 June 2007 15:41:11

Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Dari Padang Pasir hingga Padang Es

Thursday, 31 May 2007 12:27:32

Hari Tanpa Tembakau Sedunia
Mimpi Lingkungan Bebas Asap

Tuesday, 29 May 2007 15:17:09

Setahun Lumpur Lapindo
Yang Salah Masih Melenggang

Friday, 25 May 2007 15:47:59
Membandingkan Sistem Pendidikan Indonesia dan Kuba

Friday, 11 May 2007 17:11:56

Hari Perawat Internasional
Mereka yang Bekerja dengan Hati

Tuesday, 08 May 2007 19:09:23

Hari Palang Merah Internasional
Kebersamaan untuk Kemanusiaan

Friday, 04 May 2007 12:11:06

Resensi Buku
Holocaust, antara 'Kebenaran' dan Kemanusiaan

Thursday, 03 May 2007 19:17:32

Hari Kebebasan Pers Internasional
Pewarta Menapak Jalan Kelam


NEWS FEATURE INTERVIEW RADIO ABOUT US


.:: ARTICLE ::.
Author : Rosmi Julitasari S.
Tue, 05 Jun 2007 15:41:11 +0700



Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Dari Padang Pasir hingga Padang Es


Satu tahun lalu warga dunia dilanda ketakutan akan hilangnya rumah bagi sepertiga  populasi ekosistem dunia. Menyusutnya padang pasir dan lahan kering, terutama di Afrika, memang mengkhawatirkan. Tidak seperti air dan udara yang notabene dapat dibersihkan dan direhabilitasi, perusakan tanah membutuhkan ribuan tahun untuk memperbaikinya.
 
Satu tahun telah berlalu. Perbaikan 40% permukaan bumi tersebut belum juga tuntas. Efek rumah kaca dan pemanasan global terus berlanjut. Masalah baru muncul: es mencair, dan permukaan air naik. Kedua permasalahan ini memicu akibat yang sama: berkurangnya lahan hidup bagi penghuni dunia.
 
Pencairan es di permukaan bumi ini menjadi sorotan dalam Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2007. United Nations Environment Program (UNEP) PBB mengusung tema “Es Mencair, Waspadalah!” Peringatan puncaknya akan digelar di Tromso, Norwegia. Kota tersebut memang terkenal sebagai “pintu gerbang menuju Kutub Utara”, yang juga menjadi tuan rumah “International Polar Year”.
 
Inilah titik kulminasi perusakan lingkungan global. Tak kurang empat dari tujuh puncak di Pegunungan Cartenz telah kehilangan es. Sebagian besar gletser di pegunungan Alpen bisa jadi lenyap di akhir abad ini. National Geographic pun mencatat, pada 2005
Greenland kehilangan total 224 kilometer kubik es, lebih dari dua kali lipat sepuluh tahun lalu.
 
Sama halnya dengan udara, air, dan tanah, es juga memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan di planet ini. Es, dalam bentuk lautan, gletser, bongkahan, atau salju memantulkan panas matahari. Sebaliknya permukaan laut yang kelam serta permukaan tanah yang tidak tertutup es menyimpan panas, dan menaikkan suhu bumi. Bila lapisan es menghilang, bumi akan terus menyimpan panas matahari. Semakin tinggi suhu bumi, kian banyak es yang akan terus mencair, dan akan terus memicu pemanasan global.
 
Kenaikan suhu bumi memang sudah diramalkan banyak pihak. Penggunaan bahan bakar yang terus meningkat sejak menggeliatnya dunia industri di berbagai belahan bumi memicu emisi gas buang seperti karbon dioksida dan karbon monoksida. Emisi gas buang ini yang membuat kenaikan suhu permukaan bumi, termasuk kerusakan lapisan ozon di atmosfer bumi.
 
Dunia industri membabat habis semua sumber daya yang ada di bumi.Tak hanya sumber bahan bakar fosil seperti minyak bumi, tapi juga hutan. Hingga saat ini hutan yang masih tersisa tak lebih dari 6% dari permukaan bumi, dan merupakan rumah bagi 30 juta spesies, dan menyediakan 20% hingga 30% oksigen bagi dunia.
 
Pada tahun ini buku rekor dunia Guiness akan memasukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penghancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90% dari sisa hutan dunia. Greenpeace mencatat, setiap jam Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola. Sebanyak 72% dari hutan asli Indonesia telah musnah, dan setengah dari yang tersisa masih terancam kebakaran, penebangan komersial, dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit.
 
Penghancuran hutan inilah sumber malapetaka sebenarnya. Oksigen yang merupakan elemen penting bagi hidup manusia mulai menipis. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan semakin tinggi gas emisi rumah kaca yang justru berpotensi menghancurkan kehidupan. Gajah di Afrika hingga beruang es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mulai merasakan akibatnya. (E4)

[Send to Friends]   [Printer Friendly Page]


Related Links :

Tuesday, 05 June 2007 15:12:48
Hari Lingkungan Hidup

Tuesday, 05 June 2007 12:25:08
Hari Lingkungan Hidup

Monday, 04 June 2007 17:58:26
Sidang Gugatan YLBHI

Tuesday, 29 May 2007 18:30:24
Gugatan Perdata

Tuesday, 29 May 2007 15:17:09
Setahun Lumpur Lapindo

Search
Banjir 2007
Analysis
Human Rights Database
Security Sector Reform
The Letter
Links
Polling
Copyright © 2005 - 2010 VHRmedia.net - Voice of Human Rights News Centre
Jl. Tebet Barat Dalam II / 15 - Jakarta Selatan 12810 - Indonesia
Phone : +62 21 831 8274 - Faximile : +62 21 831 8276
E-mail : vhr@vhrmedia.net