|
.:: ARTICLE ::. Author : Tue, 05 Jun 2007 15:41:11 +0700
Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Dari Padang Pasir hingga Padang Es
Satu tahun lalu warga dunia dilanda ketakutan akan hilangnya rumah bagi sepertiga populasi ekosistem dunia. Menyusutnya padang pasir dan lahan kering, terutama di Afrika, memang mengkhawatirkan. Tidak seperti air dan udara yang notabene dapat dibersihkan dan direhabilitasi, perusakan tanah membutuhkan ribuan tahun untuk memperbaikinya. Satu tahun telah berlalu. Perbaikan 40% permukaan bumi tersebut belum juga tuntas. Efek rumah kaca dan pemanasan global terus berlanjut. Masalah baru muncul: es mencair, dan permukaan air naik. Kedua permasalahan ini memicu akibat yang sama: berkurangnya lahan hidup bagi penghuni dunia. Pencairan es di permukaan bumi ini menjadi sorotan dalam Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2007. United Nations Environment Program (UNEP) PBB mengusung tema “Es Mencair, Waspadalah!” Peringatan puncaknya akan digelar di Tromso, Norwegia. Kota tersebut memang terkenal sebagai “pintu gerbang menuju Kutub Utara”, yang juga menjadi tuan rumah “International Polar Year”. Inilah titik kulminasi perusakan lingkungan global. Tak kurang empat dari tujuh puncak di Pegunungan Cartenz telah kehilangan es. Sebagian besar gletser di pegunungan Alpen bisa jadi lenyap di akhir abad ini. National Geographic pun mencatat, pada 2005 Greenland kehilangan total 224 kilometer kubik es, lebih dari dua kali lipat sepuluh tahun lalu. Sama halnya dengan udara, air, dan tanah, es juga memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan di planet ini. Es, dalam bentuk lautan, gletser, bongkahan, atau salju memantulkan panas matahari. Sebaliknya permukaan laut yang kelam serta permukaan tanah yang tidak tertutup es menyimpan panas, dan menaikkan suhu bumi. Bila lapisan es menghilang, bumi akan terus menyimpan panas matahari. Semakin tinggi suhu bumi, kian banyak es yang akan terus mencair, dan akan terus memicu pemanasan global. Kenaikan suhu bumi memang sudah diramalkan banyak pihak. Penggunaan bahan bakar yang terus meningkat sejak menggeliatnya dunia industri di berbagai belahan bumi memicu emisi gas buang seperti karbon dioksida dan karbon monoksida. Emisi gas buang ini yang membuat kenaikan suhu permukaan bumi, termasuk kerusakan lapisan ozon di atmosfer bumi. Dunia industri membabat habis semua sumber daya yang ada di bumi.Tak hanya sumber bahan bakar fosil seperti minyak bumi, tapi juga hutan. Hingga saat ini hutan yang masih tersisa tak lebih dari 6% dari permukaan bumi, dan merupakan rumah bagi 30 juta spesies, dan menyediakan 20% hingga 30% oksigen bagi dunia. Pada tahun ini buku rekor dunia Guiness akan memasukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penghancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90% dari sisa hutan dunia. Greenpeace mencatat, setiap jam Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola. Sebanyak 72% dari hutan asli Indonesia telah musnah, dan setengah dari yang tersisa masih terancam kebakaran, penebangan komersial, dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit. Penghancuran hutan inilah sumber malapetaka sebenarnya. Oksigen yang merupakan elemen penting bagi hidup manusia mulai menipis. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan semakin tinggi gas emisi rumah kaca yang justru berpotensi menghancurkan kehidupan. Gajah di Afrika hingga beruang es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mulai merasakan akibatnya. (E4)
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
Related Links : Tuesday, 05 June 2007 15:12:48 Hari Lingkungan Hidup Tuesday, 05 June 2007 12:25:08 Hari Lingkungan Hidup Monday, 04 June 2007 17:58:26 Sidang Gugatan YLBHI Tuesday, 29 May 2007 18:30:24 Gugatan Perdata Tuesday, 29 May 2007 15:17:09 Setahun Lumpur Lapindo
|