|
.:: FEATURE ::. Author : Tue, 05 Jun 2007 14:30:11 +0700
Sebuah Pesan untuk Puput
Namaku Mirza Retelia, 28 tahun. Pada Januari 2000 aku menikah dengan seorang pecandu narkotika. Ia sudah menjadi pecandu sejak 1997. Namun, ada tabir gelap dalam kehidupannya. Ternyata dia juga terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Namun aku terlambat mengetahui semua itu. Aku mengetahui dia terinfeksi HIV ketika bayi kesayanganku tertular. Awalnya Eka Puteri Afrianti, bidadari cilikku yang biasa kupanggil Puput, menderita diare dan sariawan berkepanjangan. Bukan hanya itu, suhu tubuhnya panas, nafasnya pun sesak. Hingga umur tiga bulan, berat badan Puput tak bertambah. Aku pun panik, dan membawanya ke rumah sakit. Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium. Setelah melihat hasilnya, bagai disambar petir di siang bolong, ternyata bayiku terinfeksi HIV! Aku langsung pingsan. Keluargaku menyarankan aku bercerita pada dokter mengenai suamiku yang pecandu narkotika. Aku mulai mencurigai suamiku. Dialah satu-satunya orang yang rawan terkena virus mematikan tersebut, karena seorang pecandu narkotika. Namun dia tidak mengakui. Bahkan, dia bersumpah dengan menyebut “demi Allah” segala. Aku pun percaya. "Dok, saya butuh waktu satu jam, saya mau cerita tentang suami saya," kataku kepada dokter. Dia memberi aku waktu satu jam. Dia curhat, aku curhat. Dokter pun menyarankan aku untuk melakukan tes HIV. Aku mengikuti saran itu. Hasilnya sungguh membuatku tertekan. Ternyata aku juga terkena virus yang paling menakutkan orang di abad ini. Sebenarnya saat kami berpacaran aku pernah bertanya apakah dia bersih dari HIV. Dia mengaku bersih. Orang tuaku menyarankan aku tidak menikahi seorang pecandu karena rawan HIV. Namun karena aku begitu mencintainya, aku abaikan saran itu. Aku tetap menikahinya tanpa persetujuan orang tua. Kini, setelah perkawinan kami berumur empat tahun aku baru sadar bahwa saran orang tuaku benar. Aku sadar setelah terlambat. Sebenarnya aku tidak menyesali telah tertular HIV, karena ini semua akibat keputusanku sendiri. Tapi aku merasa bersalah terhadap si kecil, karena harus menanggung kesalahanku. Seandainya tahu suamiku terinfeksi HIV tentu aku tidak akan pernah melahirkan. Karena suami telah membohongiku, aku memutuskan untuk menceraikan dia. Aku teguh mengambil keputusan ini berkat dorongan motif dari mamaku. Setelah Puput berumur setahun, suamiku telah terbunuh oleh acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Setelah tahu aku terinfeksi HIV, selama setahun aku dan si kecil mengurung diri dalam rumah. Setiap hari aku hanya merawat si kecil. Setiap hari kami berdua minum obat dua kali. Ini harus kami jalani berdua seumur hidup. Harga obat itu pun tak murah. Setiap bulan aku harus mengeluarkan Rp 2 juta untuk membeli obat kami berdua. Aku selalu berpikir, setelah orang-orang tahu aku dan si kecil terinfeksi HIV nanti tak akan ada orang yang sudi mendekat. Mereka semua pasti takut tertular virus mematikan itu. Seolah-olah di jidat kami berdua ada cap “HIV”. Memang demikianlah kenyataannya. Aku dan si kecil selalu mendapat perlakuan diskriminatif sejak diketahui terinfeksi HIV. Bukan hanya para tetangga dan teman-temanku, keluargaku pun memperlakukan kami berdua secara tidak adil. Mamaku selalu memisahkan piringku dan pring si kecil dari piring saudara-saudaraku. Piring kami berdua diberi nama. Setiap kami berdua mau makan, harus mencari piring yang ada nama kami. Diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV bukan hanya dilakukan orang-orang awam. Bahkan, petugas rumah sakit yang semestinya lebih tahu soal HIV memperlakukan kami berdua secara diskriminatif. Setiap mereka mengganti sprei saya, mereka menggunakan sarung tangan lateks. Seolah-olah sprei saya sangat menakutkan. Perlakuan diskriminatif itu hilang secara pelan-pelan setelah mereka mengetahui seluk-beluk HIV sedikit demi sedikit. Adikkulah orang yang paling gigih mengakhiri semua diskriminasi itu. Ia menunjukkan kepada keluarga bahwa HIV tidak begitu mudah menulari orang lain. Setiap aku minum teh botol, adikku secara demonstratif meminum sisanya di depan keluarga. Berkat dorongan keluargaku yang mulai sadar soal HIV, aku kembali bangkit. Semangat hidupku perlahan-lahan pulih. Aku cukup beruntung, karena sebuah perusahaan multinasional mempekerjakan aku sebagai penyuluh HIV/AIDS untuk para karyawannya. Aku kini bergabung dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Empat tahun sudah aku menjanda. Aku mulai merindukan seorang suami. Puput, si kecil, juga menginginkan figur seorang ayah. Aku akui, ini masalah yang sangat sulit. Setelah menjanda memang aku sempat berpacaran selama tiga bulan dengan seorang pria yang bersih dari HIV. Tapi, setelah tahu aku terinfeksi HIV, dia memutuskan hubungan kami. Aku pun menerima keputusan dia. Karena aku mencintainya, aku tak mau menularkan virusku padanya. Banyak dokter mengatakan orang yang terinfeksi HIV tidak akan berumur panjang. Tapi aku punya keyakinan sendiri, soal umur, Tuhan yang menentukan. Selagi masih hidup, aku harus merawat dan membesarkan Puput. Aku ingin si kecil juga bisa bersekolah seperti anak-anak lain. Syukur-syukur dia bisa melanjutkan hidup sampai bangku sekolah menengah umum. Aku ingin si kecil jadi orang pintar seperti anak-anak lain. Kini si kecil sudah duduk di taman kanak-kanak. Namun dia membuatku gundah karena selalu bertanya mengapa kami berdua selalu minum obat setiap hari. “Teman-teman di sekolah tidak minum obat tiap hari, Ma!”katanya. Aku hanya bilang, “Supaya sehat!”. Tapi dia selalu bilang, “Tapi Puput tidak merasa sakit, Ma!” Aku tidak bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Aku kesulitan menjelaskan virus yang diidapnya. Aku tidak tahu apakah akan sanggup menceritakan ini kepada si kecil. Aku berencana memberi tahu Puput saat dia duduk di kelas IV sekolah dasar. Ia memang berhak tahu mengenai kondisi dirinya. Tapi aku butuh waktu lama untuk memberi tahu. Aku tak sanggup memberi tahu dia sekarang. Biar Puput tahu nanti saja. Saat ini aku baru merancang kalimat: “Puput sayang. Mama memberi obat setiap hari karena Puput terinfeksi HIV. Mungkin ini salah Mama, tapi Mama tidak tahu. Virus ini datang dari Papa kamu. Mama telah dibohongi Papa kamu. Seandainya Mama tahu, Mama juga enggak kepengin punya anak. Puput harus menerima kenyataan ini. Puput pasti marah. Mama akan terima semua ini.” (E2) - Dituliskan Fathiyah Wardah Alatas berdasarkan penuturan Mirza Retelia
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
|