 |
.:: FEATURE ::. Author : Mon, 04 Jun 2007 20:14:18 +0700
Menyambung Hidup dengan Dawai
Dia berkeliling Jakarta memainkan siter buatan suaminya. Sinden yang dulu cukup terkenal itu kini menjadi pemusik jalanan. Kedua ibu jarinya lincah memetik dawai siter. Suara alat musik khas Jawa itu melengking mendayu. Sementara dari tenggorokannya mengalun merdu tembang-tembang Jawa yang sedang populer. Sengatan matahari siang itu tak dihiraukannya. Butir-butir keringat membasahi dahinya yang berkerut. Minggu 20 Mei lalu Sawitri ngamen di depan warung mi ayam di Pondok Gede, Jakarta Timur. Dandanannya selayaknya seorang sinden. Dia berkebaya merah bermotif bunga dipadu dengan kain batik dan selendang biru. Rambutnya disanggul. Sawitri duduk beralaskan sendal jepit, menghadap para pengunjung yang memadati warung siang itu. Yulianto, suami Sawitri, setia mendampingi. Dia mengenakan baju sorjan dan blangkon. “Karena sudah ada aturannya. Apalagi kita bawain lagu-lagu Jawa klasik,” ujar Yulianto yang pernah ikut wajib militer pembebasan Irian Barat (sekarang Papua). Jika satu lagu sudah selesai ia nyanyikan, perempuan kelahiran Surakarta 53 tahun lalu itu menyalakan rokok kretek Surya 16. Setelah mengisap sebatang rokok, Sawitri kembali memainkan tembang Jawa. Toples plastik yang diletakkan di depanya pun perlahan dipenuhi uang receh. Selama setengah hari ngamen Sawitri berhasil mengumpulkan puluhan ribu uang yang saweran. Sawitri bukan sembarang pengamen. Alunan tembang Jawa dipadu dengan petikan dewai siter mampu memukau siapa pun yang mendengar. Suaranya yang lembut mampu mengalunkan tembang yang merdu. Jemarinya yang lincah membuat dawai siter itu terdengar mengeluarkan musik apik. “Sawitri boleh dibilang satu-satunya perempuan yang bisa memainkan siter sambil menyanyi, “ ujar Yulianto, 65 tahun. Sudah 38 tahun Sawitri dan Yulianto menekuni musik Jawa. Pada 1975 mereka membentuk grup gamelan Marsudi Iromo, yang artinya mengelola irama, yang dipimpin Yulianto, di Semarang. Kelompok itu memiliki lima pemusik inti, yang semuanya memainkan gamelan. Kelompok itu cukup populer. Mereka sering ditanggap untuk main ke berbagai kota, termasuk Jakarta. Kemudian kelompok itu dipekerjakan sebagai pemain musik gamelan di Taman Mini Indonesia Indah setiap hari Minggu. Namun, sejak krisis ekonomi 1997 kelompok itu tak lagi pentas di TMII karena tak ada lagi ada dana untuk membayar mereka. Kelompok itu pun bubar. Para pemainnya mulai berpencar mengais rezeki sendiri-sendiri. Bahkan, ada anggota kelompok yang membentuk grup sendiri. Untuk menghidupi keluarganya, Sawitri dan suaminya mengamen siter ke berbagai tempat, seperti Blok M Jakarta Selatan, Cilandak Jakarta Selatan, Tanjung Priuk Jakarta Utara, dan Pondok Gede Jakarta Timur. “Orang di Taman Mini bilang, kalau selasai krismon (krisis moneter), katanya mau dipanggil lagi. Tapi sampai sekarang nggak ada panggilan,” kata Sawitri. Sawitri mengaku bakatnya menyanyi merupakan turunan dari kedua orang tuanya yang pandai menyanyi. Sebelum menjadi pemain siter, Sawitri muda seorang penari. Sedangkan kedua orang tuanya bekerja sebagai petani. Di usia 13 tahun Sawitri dinikahkan dengan Yulianto. Sejak itu ia mengikuti suaminya bermain musik keliling sebagai penari. Kadang-kadang Sawitri menjadi penyanyi pegganti jika penyanyi utama berhalangan. Lambat laun Sawitri tertarik alat musik siter. Dibantu suaminya, dia bekerja keras belajar main siter. Untuk belajar memainkan sebuah lagu, dia belajar selama satu bulan lebih. “Ada lagu yang sampai setahun baru dia kuasai,” kata Yulianto. Sawitri buta huruf karena tidak pernah mengecap pendidikan di bangku sekolah. Untuk membaca teks lagu saja ia kesulitan. “Susah ngajarinya! Tapi karena punya bakat dan kemauan keras, akhirnya dia bisa memainkan siter,“ tutur Yulianto. Kini Sawitri sudah menguasai puluhan tembang Jawa klasik dan campursari. Sebagian siter yang dimainkan Sawitri dan Yulianto buatan Yulianto. Alat itu dibuat dari barang bekas. Dawainya diambil dari bekas tali rem dan kawat kopling sepeda motor. Papan alasnya menggunakan kayu bekas yang dipelitur dengan warna cokelat. Siter “made by” Yulianto itu halus bagai buatan pabrik. Untuk memetik dawai siter, Yulianto menggunakan kawat yang dibengkokkan sehingga berbentuk seperti kuku seukuran ukuran ibu jari. Kawat itu dipasang di jari agar tidak lecet saat memetik dawai siter. Pernah sekali waktu sehabis mengamen di kawasan Cilandak, ada penonton yang ingin menawar siter itu Rp 600 ribu. Tanpa berpikir panjang lagi Sawitri langsung menyerahkan siternya kepada pembelinya. Jadilah, ia pulang tanpa membawa siter. “Sampai di rumah saya tanya, ‘mana siternya?’. “Dah laku!’ jawab dia, “ ujar Yulianto. Dia bangga siter buatannya laku dan dihargai cukup tinggi. Yulianto juga punya pengalaman yang sama. Setelah dia mengamen, ada orang yang menawar siternya dan dilepaslah siter itu. Cukup banyak orang yang tertarik dan suka siter buatan Yulianto. Selama ini sudah sembilan siter buatannya laku. Bagaimanapun hidup sebagai pemusik jalanan membuat penghasilan keluarga Yulianto tidak ajek. Ekonomi yang lesu membuat kesenian jadi lesu. Yulianto dan Sawitri pun pernah “banting setir” menjadi pedagang. Ia pernah berjualan mi ayam keliling, es cendol, dan sayur, namun selalu bangkrut. “Yang lumayan waktu jualan mi ayam, saya bisa bertahan lama,” ujar Yulianto. “Pernah waktu jual mi ayam ada orang yang mau beli sama gerobaknya. Ya, langsung saya kasih aja.” Sejoli itu pun kembali bermain musik Jawa. Uang dan modal hasil berjualan dibelikan seperangkat gamelan berupa gong besar, gendang besar, gendang kecil, dan gender. Sementara siternya tetap buatan Yulianto. Teman-teman lama yang dulu satu grup dikumpulkan lagi. Namun, karena sudah berpencar, mereka hanya bisa berkumpul kalau ada pentas besar. Kalau pentas kecil seperti pesta pernikahan, Yulianto dan Sawitri tampil berdua. Keduanya bisa memainkan empat alat dan nyambi menjadi vokalis. Yulianto dan Sawitri menamai kelompoknya Siter Nyamleng. “Dalam bahasa Jawa artinya kalau didengarnya enak,” kata Yulianto. Kini Yulianto jarang ikut ngamen keliling bersama sang istri. Umur membuatnya tak kuat berjalan jauh. Sementara Sawitri masih kuat. Dalam sehari perempuan ini sendirian bisa ngamen di berbagai tempat. “Kalau saya, kalau sudah di satu tempat pengennya ngajak pulang,” kata Yulianto. Sawitri dan Yulianto kini tinggal di rumah kontrakan yang merupakan bekas rumah tahanan Nirbaya. Karena rumah tidak cukup untuk menampung seperangkat gamelannya, Yulianto mengontrak rumah di sebelahnya untuk menampung 14 jenis alat musik koleksinya. Tiap hari Yulianto membersihkan dan merawat alat-alat musik itu. Pasangan suami istri ini menganggap benda-benda itu begitu penting dan berharga. Bagi orang Jawa seperti Yulianto, seperangkat gamelan memiliki nilai magis. Karenanya, dia menjalani ritual untuk alat-alatnya. Salah satu adalah ruwatan untuk menghilangkan sial. “Makanya, jangan sampai alat-alat ini terinjak atau dilangkahi orang,” katanya. Sawitri pun menemani Yulianto membersihkan alat-alat itu. Ia selalu berharap orang-orang tetap menggemari musik tradisional seperti gamelan. Sebab, baginya main siter bukan sekadar mencari nafkah, namun juga melestarikan musik tradisional itu. (E2)
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
|  |