Voice of Human Rights News Centre - Menyuarakan Hak Asasi Manusia, Hukum & Demokrasi
 H O M E Voice of Human Rights News Centre
We move to www.vhrmedia.com.....(KAMI PINDAH KE WWW.VHRMEDIA.COM)
  Friday, 10 September 2010
Ind   Indonesia
VHRmedia Internet Streaming Radio
DESK SSR

Monday, 11 June 2007 13:47:49
"Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan"

Thursday, 03 May 2007 17:20:29
Kebebasan

Friday, 20 April 2007 13:07:47
Bumi Makin Panas

Friday, 13 April 2007 12:23:16
"Pembinaan"

Monday, 26 March 2007 17:02:25
The Art of Resistance

Thursday, 01 March 2007 13:58:08
"Taat Cuma Kalo Ada yang Liat"

Friday, 09 February 2007 15:01:10
Face Off

Monday, 14 August 2006 08:22:08
Hukuman Mati: Pengkhianatan Konstitusi

Friday, 04 August 2006 13:53:47
Menjadi Pemula


NEWS FEATURE INTERVIEW RADIO ABOUT US


.:: EDITORIAL ::.
Author : FX Rudy Gunawan
Mon, 26 Mar 2007 17:02:25 +0700



The Art of Resistance


Telah terbit sebuah buku langka! The Art of Resistance, kumpulan foto dokumenter dan sekelumit kisah yang melatarinya. Seri foto dokumenter karya Revitriyoso Husodo ini dikumpulkan dari serangkaian aktivitas para TKI atawa buruh migran Indonesia di Hong Kong saat melakukan aksi internasional memboikot World Trade Organization (WTO).

Atmosfer Hong Kong direkam sebagai semacam foto-foto pengenalan medan sebuah aksi. Jauh dari sudut pandang lensa seorang turis atau fotografer salon yang menomorsatukan teknik atau angle. Foto-foto atmosfer ini lebih mendekati gambar-gambar observasi dengan simbol-simbol kekuatan yang menjadi musuh para buruh. Billboard iklan raksasa yang menampilkan wajah berekspresi jahat dan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh didokumentasikan Revi sebagai simbol yang berbicara.

Konsep seni sebagai media perlawanan sebenarnya tidak mutlak berkonotasi politik. Namun, karena sejarah Orde Baru mengajarkan seolah-olah satu-satunya bentuk seni sebagai perlawanan adalah seni kaum komunis yang berlabel “Lekra”, kita kemudian terjebak memahaminya sesuai dengan konstruksi sejarah yang ditanamkan atau diindoktrinasikan oleh rezim Orde Baru. Masyarakat tidak diberi kesempatan untuk mengenal lebih luas bentuk seni sebagai media perlawanan, sesuatu yang sebenarnya melekat pada setiap bentuk kesenian.

Ekspresi seni apa pun sebenarnya selalu mengandung “perlawanan” terhadap sesuatu dari wacana pemikiran seniman penciptanya. Mungkin hanya perlawanan terhadap “patah hati”, mungkin hanya perlawanan kecil terhadap “kekuasaan yang memiskinkan”, atau mungkin sekadar protes kecil terhadap ketidakadilan yang menimpa seseorang. Bahkan, seniman lawak yang paling komersial pun kalau dicermati baik-baik sebenarnya selalu menyisipkan satu-dua kritik terhadap sesuatu.

Mulai dari saat-saat persiapan, berbagai momen menarik dari sisi keseharian para TKI di Hong Kong didokumentasikan tanpa polesan artifisial, sehingga terasa menohok setiap mata yang melihatnya. Kita bisa belajar banyak dari para buruh migran. Belajar tentang perjuangan hidup, belajar tentang menegakkan hak asasi, belajar tentang keberanian, belajar tentang kejahatan manusia, dan juga belajar bagaimana mensyukuri hidup.

Kehidupan kaum buruh selalu mengandung semangat perjuangan, yang di dunia mapan semakin menipis tergerogoti iklim jahat dalam sistem politik yang amburadul. Manusia-manusia tanpa hati nurani merajalela dalam sistem politik kita. Karena berurusan dengan hati nurani, perkaranya memang jadi rumit. Di satu sisi kita tahu soal sistem adalah soal pemikiran rasional-logis-objektif, di sisi lain, hati nurani adalah perkara hati yang emosional dan subjektif.

Untuk melawan hati yang tanpa nurani, seni sebagai perlawanan lalu menjadi relevan untuk kita jadikan sebagai wacana. Seni sebagai ekspresi perlawanan atau seni untuk melawan adalah cara yang mungkin bisa diterapkan untuk melawan hati yang membatu atau menghidupkan nurani yang mati. Nama-nama seperti Wiji Thukul, Semsar Siahaan, F Rahardi, Iwan Fals, Sobron Aidit, B Soelarto, dan tentunya Pramoedya Ananta Toer, adalah sedikit dari sejumlah seniman yang mengekspresikan perlawanan melalui karya-karya mereka secara konsisten.

Konsistensi menjadi kata kunci dalam seni perlawanan. Tanpa konsistensi, perlawanan hanya akan menjadi suara lirih di tengah keluasan medan perang Kurusetra. Perjuangan untuk konsisten harus menjadi sikap dasar setiap orang yang mau melawan. Inilah batu fondasi yang kokoh bagi perjuangan yang lebih besar.

Nasib buruh hanya bisa diubah oleh perjuangan buruh yang tanpa henti. Konsisten. Nasib tahanan politik hanya bisa diubah oleh perjuangan terus-menerus sepanjang hidup mereka. Juga konsisten. Jika kita bertanya mengapa begitu banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia di negeri kita menggantung tanpa penyelesaian, salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya konsistensi dan resistensi dari mereka yang berjuang. Mengapa? Karena memang tidak mudah menjadi konsisten seumur hidup kita. Tidak mudah memiliki resistensi seluas langit yang akan membuat kita bertahan dalam kondisi seburuk apa pun. Untuk memiliki resistensi seluas langit adalah seni tersendiri yang harus kita pelajari, pahami, dalami, dan resapi dalam sungai darah di tubuh kita. Bagaimana caranya? Sederhana saja. Mulai dengan peduli pada orang lain. Mulai menghormati dan menghargai harkat dan martabat manusia. Mulai dengan bersikap benar dan menolak setiap bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan kejahatan sekecil apa pun.

Itulah inti the art of resistance. (*)

[Send to Friends]   [Printer Friendly Page]


Related Links :

Friday, 23 March 2007 18:21:15

Friday, 23 March 2007 14:26:20
Rasisme

Thursday, 22 March 2007 17:38:06

Wednesday, 21 March 2007 17:19:31
61 Tahun Wafat Amir Hamzah

Wednesday, 21 March 2007 15:48:06

Search
Banjir 2007
Analysis
Human Rights Database
Security Sector Reform
The Letter
Links
Polling
Copyright © 2005 - 2010 VHRmedia.net - Voice of Human Rights News Centre
Jl. Tebet Barat Dalam II / 15 - Jakarta Selatan 12810 - Indonesia
Phone : +62 21 831 8274 - Faximile : +62 21 831 8276
E-mail : vhr@vhrmedia.net