Telah terbit sebuah buku langka!
The Art of Resistance, kumpulan foto dokumenter dan sekelumit kisah yang melatarinya. Seri foto dokumenter karya Revitriyoso Husodo ini dikumpulkan dari serangkaian aktivitas para TKI atawa buruh migran Indonesia di Hong Kong saat melakukan aksi internasional memboikot World Trade Organization (WTO).
Atmosfer Hong Kong direkam sebagai semacam foto-foto pengenalan medan sebuah aksi. Jauh dari sudut pandang lensa seorang turis atau fotografer salon yang menomorsatukan teknik atau
angle. Foto-foto atmosfer ini lebih mendekati gambar-gambar observasi dengan simbol-simbol kekuatan yang menjadi musuh para buruh.
Billboard iklan raksasa yang menampilkan wajah berekspresi jahat dan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh didokumentasikan Revi sebagai simbol yang berbicara.
Konsep seni sebagai media perlawanan sebenarnya tidak mutlak berkonotasi politik. Namun, karena sejarah Orde Baru mengajarkan seolah-olah satu-satunya bentuk seni sebagai perlawanan adalah seni kaum komunis yang berlabel “Lekra”, kita kemudian terjebak memahaminya sesuai dengan konstruksi sejarah yang ditanamkan atau diindoktrinasikan oleh rezim Orde Baru. Masyarakat tidak diberi kesempatan untuk mengenal lebih luas bentuk seni sebagai media perlawanan, sesuatu yang sebenarnya melekat pada setiap bentuk kesenian.
Ekspresi seni apa pun sebenarnya selalu mengandung “perlawanan” terhadap sesuatu dari wacana pemikiran seniman penciptanya. Mungkin hanya perlawanan terhadap “patah hati”, mungkin hanya perlawanan kecil terhadap “kekuasaan yang memiskinkan”, atau mungkin sekadar protes kecil terhadap ketidakadilan yang menimpa seseorang. Bahkan, seniman lawak yang paling komersial pun kalau dicermati baik-baik sebenarnya selalu menyisipkan satu-dua kritik terhadap sesuatu.
Mulai dari saat-saat persiapan, berbagai momen menarik dari sisi keseharian para TKI di Hong Kong didokumentasikan tanpa polesan artifisial, sehingga terasa menohok setiap mata yang melihatnya. Kita bisa belajar banyak dari para buruh migran. Belajar tentang perjuangan hidup, belajar tentang menegakkan hak asasi, belajar tentang keberanian, belajar tentang kejahatan manusia, dan juga belajar bagaimana mensyukuri hidup.
Kehidupan kaum buruh selalu mengandung semangat perjuangan, yang di dunia mapan semakin menipis tergerogoti iklim jahat dalam sistem politik yang amburadul. Manusia-manusia tanpa hati nurani merajalela dalam sistem politik kita. Karena berurusan dengan hati nurani, perkaranya memang jadi rumit. Di satu sisi kita tahu soal sistem adalah soal pemikiran rasional-logis-objektif, di sisi lain, hati nurani adalah perkara hati yang emosional dan subjektif.
Untuk melawan hati yang tanpa nurani, seni sebagai perlawanan lalu menjadi relevan untuk kita jadikan sebagai wacana. Seni sebagai ekspresi perlawanan atau seni untuk melawan adalah cara yang mungkin bisa diterapkan untuk melawan hati yang membatu atau menghidupkan nurani yang mati. Nama-nama seperti Wiji Thukul, Semsar Siahaan, F Rahardi, Iwan Fals, Sobron Aidit, B Soelarto, dan tentunya Pramoedya Ananta Toer, adalah sedikit dari sejumlah seniman yang mengekspresikan perlawanan melalui karya-karya mereka secara konsisten.
Konsistensi menjadi kata kunci dalam seni perlawanan. Tanpa konsistensi, perlawanan hanya akan menjadi suara lirih di tengah keluasan medan perang Kurusetra. Perjuangan untuk konsisten harus menjadi sikap dasar setiap orang yang mau melawan. Inilah batu fondasi yang kokoh bagi perjuangan yang lebih besar.
Nasib buruh hanya bisa diubah oleh perjuangan buruh yang tanpa henti. Konsisten. Nasib tahanan politik hanya bisa diubah oleh perjuangan terus-menerus sepanjang hidup mereka. Juga konsisten. Jika kita bertanya mengapa begitu banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia di negeri kita menggantung tanpa penyelesaian, salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya konsistensi dan resistensi dari mereka yang berjuang. Mengapa? Karena memang tidak mudah menjadi konsisten seumur hidup kita. Tidak mudah memiliki resistensi seluas langit yang akan membuat kita bertahan dalam kondisi seburuk apa pun. Untuk memiliki resistensi seluas langit adalah seni tersendiri yang harus kita pelajari, pahami, dalami, dan resapi dalam sungai darah di tubuh kita. Bagaimana caranya? Sederhana saja. Mulai dengan peduli pada orang lain. Mulai menghormati dan menghargai harkat dan martabat manusia. Mulai dengan bersikap benar dan menolak setiap bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan kejahatan sekecil apa pun.
Itulah inti
the art of resistance. (*)